Memanusiakan Manusia


Artikel: Pendidikan
Memanusiakan Manusia

Oleh : Abdul Choliq. Guru SMA N 1 GIRI

Orang Yunani mengatakan bahwa : ” Pendidikan ialah usaha membantu manusia menjadi manusia ”. Selanjutnya dikatakan bahwa : ” Manusia perlu dibantu agar berhasil menjadi manusia. Seseorang telah berhasil menjadi manusia bila telah memiliki nilai kamanusiaan. itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia” Jadi tujuan mendidik adalah memanusiakan manusia

Bagaimana kriteria manusia yang benar-benar manusia ? Dijelaskan di dalam Tujuan Pendidikan Nasional Dalam UU SisDikNas No.20 Tahun 2003, adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Sisdiknas)

Untuk mencapai tujuan tersebut bukanlah perkara mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan adanya usaha sadar dan terencana dengan mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangasa dan negara. Disamping itu diperlukan adanya keterlibatan berbagai unsur komponen pendidikan yang ada, seperti Guru, siswa, kurikulum, manajemen, sarana dan Prasarana, kebijakan pemerintah dsb. Selanjutnya Ahmad Tafsir mengatakan untuk menghasilkan lulusan yang bagus yaitu manusia yang sempurna mungkin sejauh yang dapat diusahakan pendidikan harus dirancang sebaik-baiknya. Dalam rancangan itu harus diletakkan dan dipertanggung jawabkan dasar yang kokoh bagi rancangan dan pekerjaan pendidikan.

Usaha peningkatan mutu profesionlisme guru, usaha peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa bagi siswa dan guru telah lama dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Dikbud, baik melalui penataran-penataran, pelatihan-pelatihan seminar, diskusi, studi banding ke luar negeri dan sebagainya. Namun bagaimana hasilnya ? Sudahkah output (lulusan) pendidikan kita melahirkan manusia yang benar-benar manusia?

Untuk mengetahui lulusan pendidikan kita telah melahirkan manusia yang benar-benar manusia atau belum. Perlu diuraikan ciri-cirinya sebagai berikut :Pertama, lulusan mesti beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar ia mampu menghadapi masalah-masalah yang di luar kemampuan rasionya. Sehingga hidupnya menjadi lebih tenang tentram penuh dengan kebahagiaan.

Kedua, lulusan mesti memiliki akhlaq mulia misalnya :1- Berdisiplin tinggi. Disiplin tinggi bukan manusia robot dan bukan pula orang yang selalu bekerja keras, bukan orang yang selalu bekerja mati-matian. Disiplin tinggi adalah sikap mental yang ditandai adanya konsistensi yang tinggi, rasa pengabdian yang tinggi terhadap tugas-tugas yang diembannya. 2- Bersifat jujur. Jujur kepada Allah jujur kepada diri sendiri dan juga jujur kepada orang lain. Jujur sangat diperlukan dalam hidup yang penuh godaan dan ujian. Termasuk kejujuran adalah keberanian mengakui bahwa kita tidak mampu mengerjakan sesuatu pekerjaan bila kita memang kita ragu tentang kemampuan kita. 3- Ihlas. Artinya segala sesuatunya dikembalikan kepada Allah semata – mata mencari ridlo Allah. Suksesnya suata amal perbuatan atau pekerjaan adalah ihlas dalam beramal. Bisa dibayangkan bila berbuat karena ingin dipuja atau dipuji oleh orang lain maka bila yang memuja sudah tidak ada lagi maka amal tidak akan dilakukan lagi.

Ketiga, lulusan mesti sehat, berilmu, cakap, dan kreatif. Sehat artinya tidak penyakitan sehingga mampu produktif. Berilmu artinya pandai atau cerdas. Sehingga mampu menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat. Juga termasuk ciri orang pintar ialah ia jarang memerintah orang lain. Cakap dan kreatif artinya orang yang cakap dan kreatif adalah orang yang mampu melakukan inovasi dan selalu ingin mencari sesuatu yang baru. Maka dari itu biasanya hanya orang yang cakap dan kreatif yang selalu menang dalam persaingan.

Keempat, lulusan mesti mandiri dan bertanggung jawab. Orang yang mandiri tidak akan meng gantungkan pada orang lain atau sesuatu yang lain misalnya sekolah agar nanti jadi pegai negeri, tentara, polisi atau yang lainya. Orang yang madiri mampu bertanggung jawab terhadap apa yang diamarkan oleh Allah dan apa yang dilarang oleh Allah.

Kelima, lulusan mesti demokratis, menghargai waktu dan mapu mengendalikan diri. Menurut Goleman sebagaimana yang ditulis oleh Ahmad Tafsir ,bahwa : ” orang harus punya EQ dan IQ . adapun cara terbaik meningkatkan EQ adalah dengan Pendidikan Agama”

Berdasarkan kelima ciri tersebut kita akan dapat menjawab bahwa pendidikan kita berhasil memanusiakan manusia atau belum. Bila dilihat adanya lulusan yang sukses dalam bidangnya masing-masing, maka kita akan bangga karena masih banyak mereka yang telah menamatkan belajarnya ( wajar 9 th ) yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang sangat tinggi, berakhlaq mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dan sukses dimasyarakat. Demikian juga para lulusan SMA dan Perguruan Tinggi banyak yang berhasil menjadi pemimpin yang memiliki nilai ( sifat) kemanusiaan yang tinggi. Apakah ini sudah menjadi bukti bahwa pendidikan kita telah berhasil memanusiakan manusia ?….Belum ! Sebab sebagaimana yang dilaporkan bahwa mutu SDM Indonesia jauh dari harapan seperti yang telah dilaporkan oleh studi UNDP tahun 2000 yang menyatakan bahwa Human Development Indeks (HDI) Indonesia menempati urutan ke 109 dari 174 negara atau data tahun 2001 menempati urutan ke 102 dari 162 negara.

Contoh lain ada diantara lulusan generasi muda saat ini yang mudah marah dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja, tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SMA tapi sudah merambah dunia kampus. Dan lebih memprihatinkan lagi saat mereka selesai UNAS dan di papan pengumuman mereka dinyatakan lulus dan bahkan yang tidak luluspun ikut-ikutan mencorat coret baju

seragam yang mereka kenakan, sebagai ungkapan kegembiraan mereka lanjutkan dengan arak-arakan bersepeda motor dengan tanpa memperdulikan tatip lantas. Atau kita jarang (atau belum pernah) melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau pesanan sang pejabat.

Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Seorang bapak mencabuli dua anak kandungnya, salah satunya sempat diperkosa hingga melahirkan seorang anak yang saat ini sudah berusia lima tahun, dan seorang ibu dizinahi oleh anak kandungnya sendiri. Semua ini jadi tanda tanya besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT) kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan

prinsip saling sayang – menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim pendidikan kita selama ini ?

Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi, sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri. Dan parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi berkurang nilai kemanusiaanya( Amirul Mukminin: 2003). Pendidikan nasional selama ini telah mengesampingkan banyak hal. Seharusnya pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di legislative, ekskutif dan yudikatif, semuanya orang yang berpendidikan bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh partai karena memperebutkan posisi tertentu. Bagaimana mau memperjuangkan aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak. Bagaimana bisa memimpin bangsa ini bisanya main pecat.

Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan (“bangsat”) dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.

Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya ( entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara yang

paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini (khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini. Apakah hal ini menjadi bukti bahwa pendidikan kita telah gagal memanusiakan manusia ?

Pendidik atau para bapak ibu guru biasanya merasa bersalah bila ada anak didiknya yang telah gagal . Tetapi sebenarnya bapak ibu guru tidak sepenuhnya bersalah sebab guru adalah sebagai penolong. Pendidik bisa saja gagal menolong muridnya, adalah wajar bila yang ditolong itu ada yang berhasil menjadi manusia ada pula yang tidak berhasil menjadi manusia yang memiliki nilai kamnusiaan.

Hal ini mengisyaratkan bahwa Kita Pendidik kalau berhasil janganlah sombong. Sebab keberhasilan itu sebenarnya berkat usaha murid itu sendiri dan pengaruh motivasi dari orang lain (Pendidik / Guru) Disamping itu juga mengisyaratkan bahwa kita sebagai pendidik haruslah melakukan pertolongan dengan penuh kasih sayang dan selalu kearah yang benar.

Akhirnya semoga tugas kita mendidik ( menolong ) murid ke depan bisa melahirkan manusia yang bertanggung jawab. Manusia yang benar-benar manusia Yang ketika sudah lulus apapun pangkat dan jabatan mereka kaya atau miskin, mereka benar-benar menjadi manusia .

Untuk Bapak Ibu Guru …..Selamat berjuang ….Memanusiakan Manusia Indonesia

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s